dimassurya.com

Learn anything that worth for something

Sepasang telinga dan kesendirian mulut kita

listening

Dalam kehidupan kita sehari-hari, tentu berinteraksi menjadi suatu hal yang sangat sering kita lakukan, mengingat kita adalah makhluk sosial, bisa diartikan bahwa kita juga membutuhkan kehadiran orang lain agar kehidupan kita bisa berjalan secara harmonis. Namun dalam prakteknya, seringkali kita melihat banyak rekan-rekan kita, atau mungkin diri kita sendiri, mengalami kesulitan dalam hal berkomunikasi. Ada banyak penyebab mengapa ini bisa terjadi, salah satunya adalah kecenderungan ingin didengarkan yang menjadi penyebab utama pada saat berinteraksi satu sama lain, dan kondisi ini bisa terjadi tanpa kita sadari. Dalam bukunya  Muhammad Ahmad Al Aththar yang berjudul “Magic of Comunication”, beliau berpendapat bahwa kondisi yang merugikan dalam pembicaraan adalah menguasai pembicaraan dan mengedepankan pendapat sendiri.

Perihal tentang masalah mendengarkan juga diungkapkan oleh Handry Santriago dalam artikelnya yang berjudul “Handry Santriago tentang mendengarkan” (www.selasar.com/kreatif/handry-satriago-tentang-mendengarkan), beliau berpendapat bahwa kemampuan mendengar dalam proses kepemimpinan itu memerlukan sekali kemampuan paraphrasing dan tidak cepat emosi atau terburu-buru oleh keinginan membantai, ini bisa diartikan bahwa pengendalian emosi dan sikap ikhlas adalah kunci dalam memenangkan sebuah pembicaraan, sifat tersebut akan mendukung kondisi dimana kedua belah pihak saling memahami satu sama lain, sehingga tujuan pembicaraan bisa dicapai.

Masalah mendengarkan juga dijadikan suatu topik yang menarik oleh John C. Maxwell. Menurut beliau, kemampuan untuk mendengarkan dengan seksama adalah kunci untuk memberi pengaruh kepada orang lain, bisa diartikan bahwa dengan memberikan perhatian penuh kepada lawan bicara, kita bisa membuat suatu perbedaan yang signifikan dalam tujuan pembicaraan kita, dari sekedar hanya mendapatkan pengetahuan tambahan, menjadi pribadi yang dapat mempengaruhi orang lain.

Dalam agama Islam, Allah SWT telah mengatur manusia tentang bagaimana agar sesama umat manusia bisa saling berkomunikasi dan berinteraksi. Dikutip dari ayat Al Quran, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. ” (At Tin : 5), dari ayat tersebut bisa disimpulkan manusia diciptakan dalam kondisi yang terbaik, salah satunya adalah pemberian sepasang telinga, dan satu buah mulut yang ada dalam diri kita, dengan harapan bahwa kita mampu lebih banyak mendengarkan dibandingkan berbicara.

Namun sebelum kita berbicara mengenai langkah atau tindakan seperti apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki komunikasi kita, ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu tentang manfaat yang kita dapat nanti. Dikutip dari berbagai sumber, berikut adalah manfaat yang bisa kita ambil dari kemampuan mendengarkan:

1. Menunjukan rasa hormat.

Mendengarkan lawan bicara dengan penuh perhatian, merupakan suatu tanda penghormatan sendiri kepada mereka, karena di satu sisi, kita mengakui bahwa mereka mempunyai suatu ide atau pemahaman, yang dirasa bermanfaat untuk kedua belah pihak. Selain itu, kita juga menunjukan rasa kepedulian kepada mereka, dan juga sebagai bentuk pujian yang bisa kita berikan kepada mereka, karena mau berbagi pengetahuan yang dimiliki.

2. Membangun hubungan.

Maxwell melihat bahwa seorang pendengar yang baik akan selalu terhubung dengan orang lain di lebih banyak tingkat serta menjalin hubungan yang lebih dalam dan kuat, karena dengan menjadi pendengar yang baik, kebutuhan teman bicara kita terpenuhi, sehingga orang tersebut akan merasa nyaman dalam hidupnya, dan hasil yang akan terjadi adalah ikatan yang kuat antar manusia dengan seseorang yang bisa memberikan rasa nyaman tersebut.

3.  Memperkaya pengetahuan.

Dalam berinteraksi kepada seseorang, hal yang pertama bisa kita tanyakan adalah bagaimana kabar mereka. Dari pertanyaan awal seperti itu, kita mendapatkan banyak informasi mengenai teman, keluarga, pekerjaan, dan juga pengetahuan tentang apa yang sedang terjadi saat ini. Wilson Mizner, seorang pengusaha asal Amerika juga mempunyai pendapat yang serupa dimana  beliau yakin bahwa seorang pendengar yang baik tidak hanya disukai dimana-mana. Beliau juga berpendapat dengan menjadi pendengar yang baik, pengetahuannya pun akan bertambah.

Setelah kita mendapatkan manfaat dari mendengarkan, apa yang bisa kita lakukan untuk memenangkan suatu interaksi tersebut? Dalam bukunya yang berjudul “How to win friends and influence people” oleh Dale Carnegie, beliau berpendapat bahwa manusia mempunyai sifat dasar ingin dihargai, termasuk dalam berinteraksi, hal-hal yang bisa dilakukan adalah dengan hal-hal sederhana, seperti menatap lawan bicara dan tidak menginterupsi atau memotong pembicaraan lawan bicara kita.

Secara teknis, ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk bisa mencapai sikap untuk serius mendengarkan, yaitu:

  1. Biarkan orang lain menguasai kendali pembicaraan.

Diyakini juga oleh Handry Santriago, apabila kita ingin membuat sebuah pembicaraan lebih bermakna, biarkan lawan berbicara yang mengambil porsi paling banyak, karena pada saat kita mendengarkan, sesungguhnya kita berada dalam posisi yang lebih unggul, karena kita mendapatkan kesempatan lebih banyak untuk menyerap ilmu dari lawan bicara ketimbang mereka. Sehingga pemahaman diri kita kepada lawan bicara jauh lebih baik ketimbang sebaliknya, dan jauh lebih besar kesempatan untuk kita bisa menjalin suatu hubungan jangka panjang dengannya.

  1. Perbanyaklah pertanyaan pembuka.

Pertanyaan pembuka merupakan salah satu ciri bahwa kita menghargainya dengan bentuk ketertarikan, bisa juga untuk mencairkan suasana yang kaku. Sebab dengan pertanyaan pembuka, kita mendorong lawan bicara untuk bisa mengungkapkan idenya secara eksplisit dan natural. Sehingga pemahaman terhadap dirinya bisa lebih mudah dilakukan. Namun sekedar catatan, hindari pertanyaan yang bersifat jawaban tertutup, seperti “iya” dan “tidak”. Mulailah dengan kalimat ”siapa”, “kapan”, dan “bagaimana”.

  1. Senyum dan berilah kesan-kesan reaktif.

Rasulullah pun juga bersabda tentang pentingnya tersenyum, hal ini dikutip dari Hadist Riwayat Al Tirmidzi yang menyatakan bahwa “Senyummu terhadap saudaramu adalah sedekah”. Dapat disimpulkan bahwa senyum merupakan suatu sikap yang menyenangkan, senyum bisa membuat ketegangan menjadi sebuah keberkahan, bahkan ini menjadi suatu identitas tersendiri bagi beberapa bidang bisnis maupun identitas seseorang. Senyuman juga bisa membuat suasana pembicaraan menjadi lebih mengalir dan bersifat terbuka. Berikan juga kesan reaktif sebagai tanda bahwa kita mempunyai antusiasme dalam mendengarkan lawan bicara kita, sehingga bisa memberi kesan bahwa kita adalah pribadi yang menyenangkan.

Hal-hal diatas merupakan sebuah pemahaman singkat, namun bisa membuka sedikit pengetahuan kepada kita semua agar bisa mencapai kehidupan yang harmonis dalam hal besosialisasi. Selamat mempraktekannya. Enjoy the process…..

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 21, 2015 by in Self Develop.

Navigation

Archives

June 2015
M T W T F S S
    Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  
%d bloggers like this: